Senin, 11 April 2016

Kesehatan Mental Menurut Gordon W. Allport


A.    Perkembangan Kesehatan Mental Menurut Allport
Allport percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar (kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi). Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tidak sadar . individu yang sehat berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing dia dan dapat mengontrol kekuatan itu juga.
Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma ataupun konflik pada masa kanak-kanak. Pusat dari kepribadian kita adalah intensi-intensi kita yang sadar dan sengaja, misalnya harapan, aspirasi dan impian. Manusia didorong untuk mereduksikan tegangan-tegangan, menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada tingkat yang paling rendah dan menjaga satu keadaan keseimbangan homeostatis internal atau “homeostatis”.
Manusia yang sehat memiliki kebutuhan akan sensasi-sensasi dan tantangan tantangan yang bervariasi. Orang yang sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan, dan visi itu menyatukan kepribadiannya dan membawa orang itu ke tingkat stress yang lebih tinggi.
Menurut Allport, kebahagiaan bukanlah suatu tujuan dalam diri, tetapi hasil sampingan dari integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi dan tujuan. Tujuan-tujuan yang dicita-ditakan oleh orang yang sehat pada hakikatnya tidak dapat dicapai. Orang-orang yang matang dan sehat tidak puas apabila dalam melakukan sesuatu hanya dalam taraf sedang atau memadai, mereka baru merasa puas apabila melakukan sesuatu dengan kemampuan maksimal mereka.

B.    Konsep Kepribadian Sehat Menurut Allport
Secara umum teori Allport memberi definisi yang positif terhadap manusia, teori Allport itu telah membantu manusia untuk melihat diri sendiri sebagai mahkluk yang baik dan penuh harapan. Hal tersebut terlihat dari teorinya, yaitu” gambaran kodrat manusia adalah positif, penuh harapan dan menyanjung-nyanjung”. Memandang satu pribadi positif dan apa adanya merupakan salah satu definisi pribadi sehat, inilah kelebihan dan kekuasan dari teori Allport.
            Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. (Dalam Alwisol, 2009). Dua hal yang menjadi tekanan utama adalah kepribadian merupakan sesuatu yang berkembang dan unsur-unsurnya saling terkait. Dalam pencarian definisi kepribadiannya Alllport dengan hati-hati menyadari istilah karakter dan temperamen.
·      Karakter (watak) adalah segi kepribadian yang dinilai. Seseorang sering dinilai memiliki karakter baik atau buruk.
·      Temperamen adalah disposisi yang erat kaitannya dengan faktor biologis atau fisik. Dalam hal ini hereditas memainkan peranan penting dan bersama intelegensi dan fisik membentik kepribadian.
Kemudian Allport juga berpendapat bahwa kepribadian yang neurotis dan kepribadian yang sehat merupakan hal yang mutlak terpisah. Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah tentang antisipasi. Dalam teori Allport antisipasi adalah penting untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita. Allport ingin menghilangkan kontradiksi-kontradiksi dan kekaburan-kekaburan yang terkandung dalam pembicaraan-pembicaraan tentang “diri” dengan membuang kata itu dan menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang “diri” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”.
Proprium menunjuk epada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium (self) terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport menyebutnya “saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”.
Proprium berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat “diri”. Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut dipersatukan dalam suatu konsep proprium. Jadi proprium adalah susunan dari tujuh tingkat “diri” ini. Munculnya proprium merupakan suatu prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat.
 
C.    Kepribadian Sehat Menurut Allport
Allport memiliki pandangan mengenai sifat khusus dari kepribadian sehat berdasarkan tujuh kriteria kematangan, yaitu:
1.  Perluasan Perasaan Diri
      Seseorang dikatakan matang apabila ia dapat mengembangkan perhatian-perhatian diluar dirinya. Namun, tidak cukup hanya berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri, seperti pekerjaan. Seseorang harus menjadi pertisipan yang langsung yang dan penuh. Allport menamakan hal ini sebagai pertisipan otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha menusia. Dalam pandangannya, suatu aktivitas harus relavan dan penting dan harus berarti bagi orang itu. Misalnya apabila anda mengerjakan sesuatu pekerjaan karena anda percaya bahwa pekerjaan itu penting, karena pekerjaan itu membuat anda merasa nyaman, maka anda merupakan seorang partisipan yang otentik dalam pekerjaan itu.
             Semakin seseorang terlibat dalam berbagai aktivitas, maka semakin juga ia akan sehat secara psikologis. Perasaan partisipasi otentik ini berlaku bagi pekerjaan, hubungan dengan keluarga, teman-teman, kegemaran, dan keanggotaan kita dalam politik dan agama.
2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang Lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu: kapasitas untuk keiintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keiintiman atau cinta terhadap orangtua, anak, partner, dan teman akrab. Namun, untuk orang-orang yang neurotis hubungan kapasitas keiintiman (cinta) memiliki perbedaan dengan orang-orang yang normal. Orang neurotis menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberikan cinta. Apabila mereka memberikan cinta, maka cinta itu diberikan dengan syarat-syarat yang tidak bersifat timbal balik. Sedangkan bagi seseorang yang normal atau sehat cinta diberikat tanpa syarat.
Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua ini adalah dimana bagi orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan, ketakuta, dan kegalalan yang merupakan ciri dari kehidupan manusia. Orang sehat memiliki rasa sabar dalam menghadapi tingkah laku orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya begitu saja. Orang yang sehat juga senantiasa menerima kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh orang lain karena ia menyadari bahwa setiap manusia pasti memiliki kelemahan begitu pun dengan dirinya. Sedangkan bagi orang yang neurotis memiliki rasa yang tidak sabar dalam menghadapi perbedaan sifat, tingkah laku atau kelemahan dari setiap individu.
3. Keamanan Emosional
Kepribadian yang sehat, selain mampu menerima kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh orang lain ataupun dirinya juga mampu menerima emosi-emosi dari orang lain. Kepribadian yang sehat mampu mengintrol emosi-emosi mereka sehingga emosi-emosi tersebut tidak mengganggu aktivitas-aktivitas pribadi maupun aktivitas-aktivitas dengan orang lain. Akan tetapi orang-orang neurotis menyerah pada emosi yang mendominasi mereka pada saat itu, mereka tidak mampu menahan amarah atau kebencian misalnya.
Kausalitas lain dari keamanan emosional menurut Allport adalah "sabar terhadap kekecewaan", maksudnya adalah orang yang sehat akan senantiasa sabar dalam menghadapi kemunduran atau kegagalan dalam hidupnya, mereka tidak menyerah diri pada kekecewaan, mereka dapat menanggulangi perasaan kecewanya dan akan memikirkan cara agar tidak larut dalam kekecewaan tersebut, lain halnya dengan orang yang neurotis.
4. Persepsi Realistis
Orang yang sehat memandang dunianya secara objektif bukan hanya khayalan semata. Orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang lain atau situasi semuanya jahat ataupun baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realistis. Lain halnya dengan orang-orang neurotis, mereka akan mengubah realitas yang ada agar sesuai dengan apa yang mereka inginkan atauu harapkan.
5. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya memfokuskan diri dalam hal tersebut karena dengan kita fokus terhadap apa yang kita kerjakan, maka kita akan memperoleh keberhasilan. Dalam keberhasilan yang kita dapat menunjukkan bahwa kita memiliki suatu keterampilan dan bakat serta tentu saja kita memiliki kemampuan sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan. Orang yang sehat mampu menggunakan serta mengarahkan keterampilannya pada pekerjaan mereka namun, keterampilan yang digunakan haruslah secara ikhlas, antusias, dan melibatkan diri sepenuhnya pada pekerjaan mereka karena jika hanya memiliki keterampilan namun tidak menggunakannya dengan ikhlas, antusias, dan fokus pada apa yang kita kerjakan maka semua itu hanya sia-sia dan tidak akan mencapai keberhasilan sepenuhnya.
Allport mengutip apa yang dikatakan oleh Harvey Cushing, seorang hali bedah otak yang terkenal, yaitu "Satu-satunya cara untuk melangsungkan kehidupan adalah menyelesaikan suatu tugas", maksudnya adalah didalam suatu kehidupan pasti kita memiliki banyak tugas, bagi orang yang sehat apabila ingin melanjutkan kehidupan dengan baik, maka mereka harus menyelesaikan satu persatu tugas yang dimilikinya jika mereka terus menerus mengabaikan tugas tersebut, maka kehidupannya akan terhambat karena masih banyak tugas yang belum terselesaikan sehingga sudah pasti mereka tidak dapat melanjutkan kehidupan dengan baik.
6. Pemahaman Diri
Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. Orang yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri yang tinggi tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negative pada orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.
7.  Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang yang sehat melihat kedepan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Allport menyebut dorongan yang mempersatukan ini sebagai “arah” dan lebih kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang sehat daripada orang-orang yang neurotis. Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yag sehat dari orang yang neurotis. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara sehingga tidak cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Suara hati yang tidak matang atau neurotis sama seperti suara hati kanak-kanak, yang patuh, membudak, penuh dengan pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Sedangkan suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tangggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain.






Daftar Pustaka
Alwisol, (2009). Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang.
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: KANISUS

Kamis, 24 Maret 2016

Kaitan antara Kesehatan Mental dengan Aliran Humanistik & Aliran Psikoanalisis


Kesehatan mental
Ada 4 rumusan kesehatan yang dikemukakan oleh Zakiah Daradjat disusun mulai dari rumusan-rumusan yang khusus sampai dengan yang lebih umum, yang pertama kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose), kedua kesehatan mental adalah kemampuan untuk meyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan tempat ia hidup. Ketiga, kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat, dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain, serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa. Dan keempat kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif  kebahagiaan dan kemampuan dirinya.


A.     Aliran Humanistik
            Aliran ini muncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa. Oleh karenanya sering disebut sebagai the third force (the first force is behaviorism, the second force is psychoanalysis). Aliran humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Tokoh yang berperan dalam aliran ini adalah Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya. Aliran ini memfokuskan telaah kualitas-kualitas insani. Yakni kemampuan khusus manusia yang ada pada manusia, seperti kemampuan abstraksi, aktualisasi diri, makna hidup, pengembangan diri, dan rasa estetika. Kualitas ini khas dan tidak dimiliki oleh makhluk lain. Aliran humanistik juga mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut aliran Humanistik manusia adalah makhluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihan sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.
Pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat adalah 1) perluasan perasaan diri, semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis. 2) Hubungan diri yang hangat dengan orang lain, Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orangtua, anak, partner, teman akrab. 3) keamanan emosional, kepribadian yang sehat mengontrol emosi-emosi mereka, sehingga emosi-emosi ini tidak mengganggu aktivitas-aktivitas antarpibadi. 4) Persepsi realistis, orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. 5) Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas, Allport menakankan pentingnya pekerjaan. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu-suatu tingkat kemampuan. 6) Pemahaman diri, orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. 7) Filsafat hidup yang mempersatukan, orang yang sehat melihat kedepan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang.

  • Kesehatan mental ditinjau dari aliran Humanistik

Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif. Aliran ini juga menekankan pada aktualisasi diri, yaitu mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Aliran Humanistik memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
 
B.    Aliran psikoanalisis
Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Sigmund Freud sendiri dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Pada mulanya istilah psikoanalisis hanya dipergunakan dalam hubungan dengan Freud saja, sehingga “psikoanalisis” dan “psikoanalisis” Freud sama artinya. Pandangan Freud secara lengkap mengenai psikoanalisis adalah:
1. Kesadaran dan ketidaksadaran
Freud  berpendapat bahwa kehidupan psikis terdiri dari kesadaran dan ketidaksadaran. Selanjutnya Freud mempsunyai pandangan bahwa kepribadaian terdiri dari Id, Ego, dan Superego. Id membutuhkan satisfaction dengan segera tanpa memperhatikan realitas yang ada, sehingga Freud menyebutnya sebagai prinsip kenikmatan. Ego disebut prinsip realitas  karena menyesuaikan diri dengan realitas. Sedangkan Superego merupakan prinsip moral, yaitu mengontrol perilaku dari segi moral.
2. Insting dan kecemasan
Freud menyatakan insting terdiri dari insting untuk hidup dan insting untuk mati. Insting untuk hidup mencakup lapar, haus, dan seks, ini merupakan kekuatan kreatif dan oleh Freud disebut dengan libido. Sedangkan insting untuk mati seperti menyakiti diri sendiri, bunuh diri atau ditunjukan keluar merupakan bentuk agresi. Selanjutnya menurut Freud ada tiga macam kecemasan, yaitu kecemasan objektif: kecemasan yang timbul dari ketakutan terhadap bahaya nyata. Kecemasan neurotik: kecemasan atau rasa takut  akan mendapatkan hukuman atasa keinginan yang impulsif. Kecemasan moral: kecemasan yang berkaitan dengan moral. Seseorang merasa cemas karena melanggar norma-norma moral, inilah yang disebut kecemasan moral.
Pandangan lain dari Freud  yang penting adalah tentang mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan ini bertujuan untuk menyalurkan dorongan-dorongan primitif yang tidak dapat dibenarkan oleh superego dan ego. 

  • Kesehatan mental ditinjau dari aliran Psikoanalisis

Menurut aliran Psikoanalisis, mampu dalam mengatasi tekanan dan kecemasan dari berbagai kondisi baik itu kecemasan objektif, kecemasan neurotik maupun kecemasan moral yang sebagimana telah dijelaskan sebelumnya, mampu menyeimbangkan  fungsi dari superego terhadap id dan ego, sebab superego adalah hati nurani, jadi superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian baik yang benar atau yang salah, tidak  megalami gangguan dan penyimpagan pada mentalnya, dan mampu menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan, maka seseorang tersebut dikatakan sehat secara mental. Seseorang dikatakan memiliki kesehatan mental apabila kecemasan dan kegelisahan dalam diri seseorang lenyap bila fungsi jiwa dalam dirinya seperti fikiran, perasaan, sikap, dan jiwa, pandangan, dan keyakinan hidup berjalan seiring sehingga menyababkan keharmonisan dalam dirinya.




 
Daftar Pustaka
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: penerbit kanisius.
Basuki, Heru. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Rabu, 09 Maret 2016

Konsep Sehat

Sehat (Health) secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia definisi sehat adalah baik seluruh badan serta bagian-bagaiannya.  Dapat disimpulkan definisi sehat adalah suatu kondisi di mana segala sesuatu berjalan normal dan bekerja sesuai fungsinya dan sebagaimana mestinya.


Terdapat beberapa dimensi mengenai konsep sehat, yaitu:
1.     Emosi
Emosi pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda. Manusia dikatakan sehat secara emosional jika manusia tersebut memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi mereka sesuai keadaan yang sedang dialaminya, misal marah, sedih, senang, takut, dan beberapa emosi lainnya serta mampu mengendalikan emosinya sendiri dan bersifat dewasa.

2.     Intelektual
manusia yang berintelektual mampu memecahkan masalah secara sistematis, mampu berfikir kritis dan mempunyai kreasi yang tinggi.  Sehat secara intelektual jika manusia mampu untuk berfikir dalam mengolah informasi dengan baik dan memecahkan masalahyang dihadapi serta mempunyai tujuan hidup yang jelas.

3.     Fisik
Sehat secara fisik yaitu dimana tubuh tidak ada kakurangan dan kecacatan sehingga
kondisi fisiologi tubuh mampu menjalankan fungsinya dengan normal atau sebagaimana mestinya. Sehat secara fisik juga dapat dilihat dari seseorang yang mampu menjaga kesehatannya atau tidak, dengan cara menjaga pola makan sehat,, menjaga dari makanan yang buruk, serta rutin dalam berolahraga untuk menjaga kebugaran jasmaninya.

4.     Sosial
Sehat secara sosial dapat dilihat dari seseorang mempunyai kepedulian sosial terhadap sesama, seperti mampu bergaul, mudah beradaptasi, serta selalu bersikap toleransi tanpa membedakan ras, suku maupun agama sehingga mampu menjalankan hidup dengan sejahtera.

5.     Spriritual
Kesehatan spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam mencapai ketenangan dan kedamaian hati. Sehat secara spriritual artinya bahwa seseorang memiliki nilai-nilai agama dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam hidupnya. Sehat secara rohani juga seseorang mempunyai fikiran yang  sehat, jernih dan baik karena dalam hati dan pikiran yang baik akan memancarkan jiwa yang sehat.



Daftar Pustaka


Dewi, K. S. 2012.  Kesehatan mental. Semarang: UPT UNDIP Press Semarang.