Sabtu, 15 Oktober 2016

Psikologi Manajemen dalam Organisasi

A.      Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare yang berarti menyebarluaskan atau memberitahukan. Dalam bahasa Inggris adalah  communication yang diartikan sebagai suatu proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti.
Menurut Carl I. Havland, komunikasi adalah suatu proses di mana seseorang memindahkan perangsang yang biasanya berupa lambang kata-kata untuk mengubah tingkah laku orang lain.
Menurut Everret M. Rogers, komunikasi adalah proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Sedangkan menurut Bernard Barelson & Garry A. Steiner, komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb.
Jadi, dari definisi yang dikatakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah sebagai cara untuk menyampaikan suatu ide, gagasan, serta informasi kepada orang lain yang dapat dilakukan dengan meggunakan cara verbal, seperti kata-kata, non-verbal, seperti gesture, serta dapat menggunakan simbol-simbol.

B.      Dimensi Komunikasi
Ada beberapa dimensi dalam komunikasi, yaitu:
1.       Isi
Dimensi isi menunjukkan muatan atau isi dari komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Dalam proses komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan. Isi adalah apa yang dibicarakan dalam komunikasi antara satu orang dengan orang yang lain atau bahkan lebih.
Contoh : Budi berbicara kepada Anto tentang sesuatu. Dari proses komunikasi tersebut memiliki suatu isi. Isi dari kominikasi tersebut bisa bermacam-macam namun biasanya, isi yang paling pertama adalah megenai diri kita. Kemudian isi yang didapat dari proses komunikasi tersebut, dapat kita bedakan ke dalam beberapa jenis, misalnya isi tersebut benar merupakan fakta atau hanya sebuah perasaan.

2.       Kebisingan
Dimensi Kebisingan adalah bunyi atau suara yang timbul yang tidak dikehendaki yang sifatnya mengganngu dan menurunkan daya dengar seseorang atau bisa juga dikatakan tinggi rendahnya suara yang terdengar dalam melakukan komunikasi. Contoh: dalam berkomunikasi pasti pernah mengalami suatu hambatan, misalnya terhambat oleh suara kebisingan, seperti saat berkomunikasi dengan orang lain terdengar suara pesawat terbang, suara mesin, suara lalu lintas, dll sehingga kita menjadi sulit untuk memahami kata-kata atau apa yang sedang dibicarakan oleh orang lain.

3.       Jaringan
    Dimensi jaringan adalah bagaimana cara menunjukkan dan mengisyarakatkan proses komunikasi antara satu sama lain dan bagaimana seharusnya pesan tersebut disampaikan. Dalam komunikasi massa dimensi jaringan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Jaringan adalah sejauh mana seseorang meluaskan jangkauan informasinya dalam melakukan komunikasi. Diantaranya ada komunikasi yang bergantung  pada (jaringan satelit).
Contoh: pengaruh artikel dalam surat kabar bukan bergantung pada isinya, namun bergantung juga pada siapa penulisnya, jenis huruf yang digunakan, warna tulisan yang dipakai, dll.

4.       Arah
Komunikasi dalam konteks ini dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah merupakan satu orang memberikan informasi kepada orang lainnya tanpa ada timbal balik, sedangkan komunikasi dua arah merupakan komunikasi dimana satu orang memberikan informasi ke orang lain, dan orang lain juga memberikan informasi, sehingga terjadi pertukaran informasi diantara keduanya. Contoh : saat berkomunikasi dengan Della, Riri hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Della tanpa membalas berbicara kembali, hal tersebut merupakan komunikasi satu arah. Sedangkan komunikasi dua arah adalah saat Della berbicara dengan Riri, Riri membalas berbicara kembali, sehingga terjadi pertukaran informasi diantara keduanya.

C.      Pemahaman Umum Peran Psikologi Manajemen dalam Organisasi
Pada dasarnya psikologi mempelajari tentang kesadaran manusia, mempelajari aktivitas-aktivitas individu baik secara motorik, kognitif, maupun emosional, serta memahami perilaku manusia.  Psikologi manajemen adalah suatu studi tentang tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan funsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan organisasi dapat diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu, yang perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik.
Psikologi manajemen berperan dalam organisasi pada bidang pengembangan SDM. Dimana psikologi manajemen berusaha untuk mempelajari tingkah laku manusia yang diharapkan mampu mengoptimalkan segala faktor dari dalam diri yang berkaitan dengan motivasi, sikap kerja, keterampilan diri, dan lain sebagainya. Dengan adanya psikologi manajemen diharapkan setiap individu mampu menjalani berbagai strategi perencanaan dengan baik dalam organisasi untuk mencapain segala tujuan organisasi tersebut. Tanpa adanya psikologi manajemen mungkin akan sulit untuk menjalankan strategi-strategi untuk memajukan organisasi karena dalam mencapai suatu tujuan organisasi tidak terlepas dari sikap, motivasi, serta keterampilan dalam diri individu, apabila individu tersebut tidak memiliki sikap kerja, motivasi, serta keterampilan yang baik, maka akan terhambat dalam mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan, oleh karena itu peran psikologi manajemen sangatlah penting di dalam suatu organisasi.



Daftar Pustaka
Rogers, Everret. M, & Shoemaker F. Flaoyd. (1971). Communication of inovation. London: Free                 Press Macmillan Publishing.
Deddy, Mulyana. (2002). Ilmu komunikasi suatu pengantar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Wiryanto,Dr. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jilid I. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana                       Indonesia.
Suprapto, Tommy. (2009). Pengantar Teori dan Manajemen komunikasi. Yogyakarta: Media
Pressindo.
Rakhmat, Jalaluddin, Drs. (1996). Psikologi Komunikasi. Bandung: EDISI REVISI.
Leavit,J.H. dkk.(1992). Psikologi Manajemen, Alih Bahasa Zarkasi, M. Jakarta: Erlangga.


Minggu, 25 September 2016

SDM, Organisasi, dan Kepemimpinan

A.      Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengertian Sumber Daya Manusia (SDM)
Apa yang dimaksud dengan sumber daya manusia? Berikut ini beberapa pengertian menurut para ahli.
Mary Parker Follett Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu seni untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlukan, atau dengan kata lain tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Definisi ini, mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlakukan, atau dengan kata lain dengan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
Hasibuan (2003:244) Pengertian Sumber Daya Manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu. Pelaku dan sifatnya dilakukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.
Selain pengertian SDM menurut para ahli diatas, pengertian SDM juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengertian mikro dan makro. Pengertian SDM secara mikro adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota suatu perusahaan atau institusi dan biasa disebut sebagai pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain sebagainya. Sedangkang pengertian SDM secara makro adalah penduduk suatu negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja.
Secara garis besar, pengertian Sumber Daya Manusia adalah individu yang bekerja sebagai penggerak suatu organisasi, baik institusi maupun perusahaan dan berfungsi sebagai aset yang harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya.
”Sumber daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi apa yang sumber daya manusia hasilkan”, sebagaimana yang dikemukakan oleh David Ulrich (Mathis dan Jackson, 2002:4). Maka dari itu, Sumber Daya Manusia merupakan faktor yang penting bagi setiap usaha. Sumber daya manusia yang berkualitas akan menentukan kejayaan atau kegagalan dalam persaingan (Tambunan, 2003:15).

Adapun fungsi dari Sumber Daya Manusia (SDM) itu sendiri adalah untuk meningkatkan produktivitas (achievement performance) dalam menunjang perusahaan lebih kompetitif.

A.      Organisasi

Pengertian
Menurut ERNEST DALE: Organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu struktur atau pola hubungan kerja dariorang-orang dalam suatu kerja kelompok.

Menurut CYRIL SOFFER: Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberiperan tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itudiperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapabentuk hasil.Secara umum dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yangsaling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Pengertian Teori Organisasi
Teori organisasi secara umum bisa diartikan sebagai suatu pikiran yang merupakan sekelompok orang yang membagi tugas dengan cara struktur untuk mendapatkan pedoman yang ingin dicapai bersama-sama.
Teori Organisasi adalah teori yang berusaha menerangkan/meramalkan bagaimana organisasi dan orang didalamnya berperilaku dalam berbagai struktur organisasi, budaya dan lingkungan untuk mencapai tujuan.
TEORI ORGANISASI KLASIK
Teori ini biasa disebut dengan “teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19).  Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas. Dikatakan teori mesin karena organisasi ini menganggab manusia bagaikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa dipasang dan digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin.
Defisi Organisasi menurut Teori Klasik: Organisasi merupakan struktur hubungan, kekuasaan-kejuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan factor-faktor lain apabila orang bekerja sama.

Teori Klasik berkembang dalam 3 Aliran:
-BIROKRASI, Dikembangkan dari Ilmu Sosiologi
-ADMINISTRASI, Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Makro sebuah organisasi.
-MANAJEMEN ILMIAH, Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Mikro sebuah organisasi.

TEORI NEOKLASIK
Aliran yang berikutnya muncul adalah aliran Neoklasik disebut juga dengan “Teori Hubungan manusiawi”. Teori ini muncul akibat ketidakpuasan dengan teori klasik dan teori merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”.

TEORI MODERN
Teori ini muncul pada tahun 1950 sebagai akibat ketidakpuasan dua teori sebelumnya yaitu klasik dan neoklasik. Teori Modern sering disebut dengan teori “Analiasa Sistem” atau “Teori Terbuka” yang memadukan antara teori klasik dan neokalsi. Teori Organisasi Modern melihat bahwa semua unsure organisasi sebagai satu kesatuan  yang saling bergantung dan tidak bisa dipisahkan. Organisasi bukan system tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil akan tetapi organisasi merupakan system terbuka yang berkaitan dengan lingkunngan dan apabila ingin survivel atau dapat bertahan hidup maka ia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.

Ciri-ciri Organisasi menurut para ahli Berelson dan Steiner
1.    Formalitas, adalah ciri organisasi sosial yang merujuk pada perumusan tertulis daripada peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan prosedur, kebijaksanaan, tujuan, strategi dan seterusnya 
2.    Hierarki, adalah ciri organisasi yang mengacu pada pola kekuasaan dan kewenangan yang berbentuk piramida, artinya terdapat orang-orang tertentu dengan kekuasaan dan kewenangan yang tinggi dari pada orang biasa dalam organisasi tersebut. 
3.    Besar dan Kompleksnya, adalah ciri organisasi sosial yang memiliki banyak anggota sehingga hubungan sosial antar anggota adalah tidak langsung (impersonal) yang biasanya disebut dengan "gejala birokrasi"
4.    Lamanya (Duration), adalah ciri organisasi dimana eksistensi organisasi lebih lama dari pada keanggotaan pada organisasi tersebut. 
Selain itu organisasi industri terdiri dari kelompok kerja yang saling berkaitan dalam satu tata tingkat. Likert (1961,1967) berpendapat bahwa organisasi dapat dipandang sebagai sistem dari kelompok yang saling berkaitan. 

A.      Kepemimpinan

Pengertian Kepemimpinan

Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard (1982:83), mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut: “Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam usaha untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu”.

Menurut Goerge R. Terry (1972:458) “Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang-orang untuk bekerjasama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai yang diinginkan pemimpin”.

Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan, persyaratan pemimpin, sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya serta etika profesi kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).


Berbagai Macam Teori Kepemimpinan
Teori-teori munculnya seseorang pemimpin adanya tiga teori, yaitu:
1.      Teori Genetis
Inti dari ajaran teori ini tersimpul dalam sebutan “leaders are born and not made”. Teori ini mengatakan bahwa seseorang akanmenjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan yang alami. Pemimpin itu tidak dibuat melainkan dilahirkan. Jadi dapat dikatakan bahwa pemimpin itu ada denganmembawa bakat-bakat memimpin yang luar biasa sejak ia dilahirkan. Dalam teori ini dikatakan bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga.

2.      Teori Sosial
Inti ajaran teori sosial ini ialah bahwa “leaders are made and not born”, jadi merupakan kebalikan dari teori genetis. Teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila memang disiapkan dan diberikan pendidikan atau pengalaman yang cukup, di samping juga atas kemauannya sendiri. Teori ini mengungkapkan bahwa pemimpin itu disiapkan, di didik, dan di bentuk melalui pelatihan dan tidak begitu saja dilahirkan. Setiap orang bisa menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan dari diri sendiri.

3.      Teori Ekologis
Teori ini timbul sebagai reaksi terhadap teori genetis danteori kejiwaan/sosial yang pada intinya berarti bahwa seseorang hanyaakan berhasil menjadi seorang pemimpin yang baik apabila pada waktu lahir telah memiliki bakat kepemimpinan, dan bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu. Teori genetis berpendapat bahwa bahwa seseorang menjadi pemimpin karena memang sudah ditaksirkan dan teori kejiwaan/sosial mengemukakan bahwa kepemimpinan itu bukan ditakdirkan, akan tetapi dibentuk oleh pengatuh lingkungan, maka teori ekologis mengakui kedua-duanya, artinya bahwa seseorang itu hanya akan bisa menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu  lahir telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat itu kemudian diasah melalui pendidikan.

Ciri-ciri kepemimpinan yang efektif menurut Keith Davis memiliki 4 hal, yaitu:
a. Intelegensinya tinggi (intellegence), seorang pemimpin harus memiliki tingkat intelegensi yang lebih tinggi dari bawahannya. 
b. Kematangan jiwa sosial (social maturity and breadth) Pemimpin biasanya memiliki perasaan/jiwa yang cukup matang dan mempunyai kepentingan serta perhatian yang cukup besar terhadap bawahannya.
c. Motivasi terhadap diri dan hasil (inner motivation and achievment drives) Para pemimpin senantiasa ingin membereskan segala sesuatu yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
d. Menjalin hubungan kerja manusiawi (human relation attides) Pemimpin harus dapat bekerja secara efektif dengan orang lain atau dengan bawahannya.


       Berkaitan dengan teori SDM, organisasi dan kepemimpinan yang telah diuraikan diatas tidak terlepas dari sosok yang sangat berpengaruh dalam memimpin kota Bandung, yaitu Ridwan Kamil atau yang akrab disapa dengan Kang Emil. Beliau adalah salah satu orang yang telah membuat perubahan besar-besaran terhadap kota Bandung. Berkat kepemimpinannya, dapat diakatakan bahwa ia sukses dalam memimpin dan membangun kota Bandung menjadi kota yang lebih baik, maju, dan inovatif. Ia merupakan salah satu orang yang memiliki ciri-ciri kepemimpinan yang efektif menurut Keith Davis yang sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Mengapa demikian? Karena untuk menjadi seorang pemimpin membutuhkan tingkat intelegensi yang  lebih tinggi dari bawahannya. Hal itu dibuktikan oleh Kang Emil yang sejak kecil bersekolah di sekolah dan perguruan tinggi favorit (ITB (Teknik Arsitektur-S1), University of California (Master of Urban Design-S2)). Selama bersekolah, beliau juga dikenal sebagi sosok yang aktif dan cerdas. Seorang pemimpin biasanya memiliki perasaan/jiwa yang cukup matang dan mempunyai kepentingan serta perhatian yang cukup besar terhadap bawahannya, selain cerdas Ridwan Kamil dikenal sebagai sosok pemimpin yang ramah yang memiliki jiwa sosial yang tinggi.  Beliau juga memiliki motivasi serta rasa tanggung jawab yang besar dalam membangun kota Bandung.
     Selain menjadi seorang pemimpin, Ridwan Kamil juga aktif dalam organisasi ia terlibat dalam BCCF (Bandung Creative City Forum). BCCF adalah sebuah forum dan organisasi lintas komusikasi kreatif yang didirikan oleh berbagai komunitas kreatif di kota Bandung. Ridwan Kamil merupakan ketua pertama BCCF. Melalui BCCF, ia membangun suatu konsep kolaborasi melalui jaringan yang dinamis di antara komunitas kreatif yang ada di Bandung dan bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan komunitas kreatif di kota Bandung. Melalui BCCF juga Ridwan Kamil berusaha untuk melakukan pengembangan SDM dengan memperbaiki kontribusi produktif orang-orang atau tenaga kerja terhadap organisasi/perusahaan dengan cara yang bertanggung jawab secara strategis, etis, dan sosial.




Daftar Pustaka

Rahardjo, Kusdi. 2009. Teori  Organisasi Dan Administrasi. Jakarta: Salemba.
Prof . Dr. J.Winardi. 2001. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Jakarta: Rajawali Press.
Indrafachrudi, Soekarto dan Thalele. 2006. Bagaimana Memimpin Sekolah yang efektif. Bogor: Ghalia Indonesia.
Davis, Keith, & Jhon W. Newstrom, 2000. Perilaku Dalam Organisasi, Edisi Ketujuh, Alih Bahasa Agus Darma, Jakarta: Erlangga.
Munandar, Ashar sunyoto. 2001. Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: UI –Press.
Greer, Charles R. Strategy and Human Resources: a General Managerial Perspective. New Jersey: Prentice Hall, 1995.

Senin, 25 April 2016

Gangguan Kesehatan Mental


Gangguan Kepribadian Antisosial (Antisocial Personality Disorder)

By :
Class 2PA01
1.     Khodijah Ul Kubro         (15514866)
2.     Putri Elena Safitri           (18514594)
3.     Risa Andriani                  (19514478)
4.     Saras Zettira Pratiwi      (1A514046)

  • Apa itu Antisocial Personality Disorder ? 

    Menurut kelompok kami:
    • Menurut Khodhijah : Antisosial merupakan sikap seseorang yang tidak acuh (menghiraukan) orang-orang disekitarnya dan cenderung menyendiri. Hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab, seperti latarbelakangnya, trauma yang berhubungan dengan sosial, canggihnya teknologi yang membuat individu memainkan smartphonenya dibandingkan mengobrol dengan orang disekitarnya. 
    • Menurut Putri Elena : Antisosial merupakan perilaku menarik diri dari segala kegiatan sosial. Mereka yang antisosial cenderung tidak ingin bersosialisasi atau bergabung, bahkan akan mengabaikan lingkungan sosialnya.
    • Menurut Risa Andriani : Orang-orang yang pada umumnya adalah perilaku kriminal.
    • Menurut Saras Zettira : Gangguan kepribadian antisosial adalah kondisi seseorang dimana ia tidak senang berhubungan dengan orang lain dan lebih senang menyendiri. Selain itu, individu tersebut cenderung bersifat apatis terhadap ligkungan sekitarnya.
    • Sedangkan  menurut para tokoh : Menurut Nevid dkk (2005:277) gangguan perilaku antisosial adalah sebuah gangguan perilaku yang ditandai oleh perilaku antisosial dan tidak bertanggung jawab serta kurangnya penyesalan untuk kesalahan mereka. Sedangkan menurut Cleckley (1976 dalam Silitonga, 2010) Orang dengan gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder) secara persisten melakukan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan sering melanggar hukum. Mereka mengabaikan norma dan konvensi sosial, impulsif, serta gagal dalam membina hubungan interpersonal dan pekerjaan. Menurut Kathleen Stassen Berger, sikap antisosial adalah sikap dan perilaku yang tidak mempertimbangkan penilaian dan keberadaan orang lain ataupun masyarakat secara umum disekitarnya.
     
  • Gejala/Ciri-ciri Antisocial Persinality Disorder 

Tanda dan gejala gangguan kepribadian antisosial meliputi: 
1.  Mengabaikan nilai-nilai benar dan salah.
2. Berbohong atau menipu untuk mengeksploitasi orang lain.
3. Menggunakan pesona atau kecerdasan untuk memanipulasi orang lain dengan tujuan meraih keuntungan pribadi atau untuk kesenangan semata.
4. Egosentrisme intens, rasa superioritas, dan eksibisionisme.
5. Berulang kali mengalami masalah hukum.
6. Berulang kali melanggar hak orang lain dengan menggunakan intimidasi, ketidakjujuran, dan penipuan.
7. Tindakan pelecehan terhadap anak atau melalaikannya.
8. Menunjukkan sikap permusuhan, agitasi, impulsif, atau kekerasan.
9. Kurangnya empati terhadap orang lain dan kurangnya penyesalan saat melakukan tindakan merugikan.
10. Mengambil resiko atau melakukuan tindakan berbahaya yang tidak perlu.
11. Hubungan yang buruk atau kasar.
12. Perilaku kerja yang tidak bertanggung jawab.
13. Kegagalan untuk belajar dari konsekuensi perilaku negatif dimasa lalu.   

Gejala gangguan kepribadian antisosial dapat dimulai pada masa kanak-kanak dan sepenuhnya terimplementasi pada usia 20-an dan 30-an. 
Pada anak-anak, kekejaman terhadap hewan, perilaku bullying, impulsif atau ledakan kemarahan, isolasi sosial, dan kinerja sekolah yang buruk, dalam beberapa kasus, merupakan tanda awal gangguan ini. Meskipun dianggap sebagai gangguan seumur hidup, beberapa perilaku destruktif dan kriminal, serta penggunaan alkohol atau obat-obatan dapat berkurang dari waktu ke waktu.   

  • Bentuk-bentuk Sikap Antisosial
  
-  Berdasarkan Penyebabnya

a)     Sikap antisosial yang muncul karena penyimpangan (devisiasi) individual Penyimpangan individul bersumber dari faktor-faktor yang terdapat diri seseorang, seperti pembawaan, penyakit, kecelakaan yang dialami seseorang, atau karena terdapat pengaruh sosial budaya yang sifatnya unik terhadap individu. Adapun bentuk-bentuk sikap antisosial antara lain sebagai berikut:

a.   Pembandel, yaitu orang yang tidak mau tunduk pada peringatan orang-orang yang memiliki kewenangan di lingkungan tersebut.

b.    Pelanggar, ialah orang-orang yang melanggar norma-norma umum atau masyarakat yang berlaku

c.     Pembangkang, adalah orang yang tidak tunduk pada nasihat-nasihat orang yang terdapat dilingkungan tersebut.
d.  Penjahat, adalah orang-orang yang mengabaikan norma-norma umum atau masyarakat yang berbuat sekehendak hati yang mengakibatkan kerugian-kerugian harta atau jiwa yang terdapat dilingkungannya ataupun yang berada di luar lingkungannya sehingga para anggota masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan selalu bersiap-siap untuk menghadapinya.


b)     Sikap antisosial yang muncul karena penyimpangan situsional

Penyimpanan situasional adalah fungsi pengaruh kekuatan-kekuatan situasi yang berada di luar individu atau dalam situasi ketika individu merupakan bagian yang tidak terpisahkan di dalamnya. Situasi sosial adalah keadaan yang berhubungan dengan tingkah laku seseorang dimana tekanan, pembatasan, dan rangsangan yang datang dari orang atau kelompok di luar diri orang itu relatif lebih dinamis daripada faktor-faktor internal yang dapat menimbulkan respons mengenai hal-hal tersebut. Penyimpangan situasional dapat selalu kembali jika situasinya berulang. Mengenai kejadian tersebut, menjadi penyimpangan kumulatif. Macam-macam bentuk sikap antisosial adalah sebagai berikut:
a.   Degradasi moral atau demoralisasi karena kata-kata keras dan radikal yang kelaur di mulut para pekerja yang di PHK secara sepihak oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

b.    Tingkah laku kasar pada golongan remaja

c. Tekanan batin yang dialami oleh perempuan-perempuan yang mengalami menopause

d. Penyimpangan seksual yang terjadi karena seseorang menunda-nunda perkawinan 
e. Homoseksual yang terjadi untuk narapidana di lembaga permasyarakatan.

c)     Sikap antisosial yang muncul karena penyimpangan biologis

Penyimpangan biologi adalah faktor pembatas yang tidak memungkinkan terjadinya dalam memberikan persepsi atau menimbulkan respons-respons tertentu. Gangguan terjadi jika individu tidak melakukan suatu peranan sosial tertentu yang sangat perlu. Pembatasan terhadap gangguan-gangguan ini sifatnya transbudaya (menyeluruh di seluruh dunia). Terdapat macam-macam bentuk diferensiasi yang dapat menghasilkan penyimpangan biologis adalah sebagai berikut :

a.     Ciri-ciri ras, misalnya tinggi badan, roman muka, dan bentuk badan

b.  Ciri-ciri karena gangguan fisik, misalnya kehilangan anggota tubuh dan gangguan sensorik

c.     Ciri-ciri biologis yang aneh, cacat karena luka dan cacat yang terjadi karena bawaan lahir.
d.  Tidak berfungsi tubuh secara baik dan tidak bisa dikendalikan lagi, misalnya epilepsi dan tremor.

d)     Sikap antisosial yang bersifat sosiokultural

Beberapa bentuk sikap dari antisosial dengan sifat sosiokultural adalah sebagai berikut :

a.     Primordialisme, adalah suatu sikap atau pandangan yang menunjukkan sikap yang berpegang teguh kepada hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu, misalnya suku bangsa, agama, ras, ataupun asal usul kedaerahan oleh seseorang dalam kelompoknya, kemudian meluar dan berkembang. Primordialisme muncul karena adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh individu dalam suatu kelompok dan keinginan untuk mempertahankan keutuhan suatu kelompok. Selain dari itu, primordialisme berkaitan disebabkan dengan nilai-nilai mengenai keyakinan, misalnya keagamaan dan pandangan hidup. 

b.   Etnosentrims atau fanatisme suku bangsa, ialah suatu sikap yang menilai kebudayaan masyarkat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di masyarakatnya sendiri. 
c.  Sekularisme, yaitu sikap yang lebih mengedepankan hal-hal yang sifatnya nonagamawi, misalnya teknologi dan ilmu pengetahuan. Orang yang seperti ini cenderung mengedepankan kebenaran duniawi. 

d.  Hedonisme, adalah suatu sikap manusia yang didasarkan pada diri mengenai pola kehidupan yang serbamewah, glamor, dan menemparkan kesenangan materiil di atas segalanya. Tindakan yang baik menurut hedonisme adalah tindakan yang menghasilkan kenikmatan. Orang yang mempunyai sifat seperti ini biasanya kurang peduli mengenai keadaan di sekitarnya karena yang diburu adalah kesenangan pribadi. 

e.     Fanatisme, ialah suatu sikap yang mencintai atau menyukai mengenai suatu hal secara berlebihan. Mereka tidak memedulikan apapun yang dipandang lebih baik daripada hal yang disenangi tersebut. Fanatisme yang berlebihan sangat berbahaya karena dapat berujung pada perpecahan atau konflik. Seperti fanatisme terhadap suatu ideologi atau arti idola. 
f. Diskriminasi, adalah sikap yang membeda-bedakan secara sengaja golongan-golongan yang berkaitan mengenai kepentingan-kepentingan tertentu. Dalam diskriminasi, golongan tertentu diperlakukan secara berbeda dengan golongan-golongan lain. Pembedaan itu dapat didasarkan pada suku bengsa, agama, mayoritas, atau bahkan minoritas dalam masyarakat. Seperti, diskriminasi ras yang sebelumnya pernah terdapat di Afrika Selatan dimana seluruh warga ras kulit putih menduduki lapisan lebih tinggi dibandingkan ras kuit hitam. 


           - Berdasarkan Sifatnya
a)     Tindakan antisosial yang dilakukan secara sengaja

Tindakan antisosial yang dilakukan secara sengaja adalah tindakan yang dilakukan secara sadar oleh pelaku, akan tetapi tidak mempertimbangkan penilaian orang lain terhadap tindakannya tersebut. Seperti vandalisme atau aksi corat-coret tembok rumah orang lain. 

b)    Tindakan antisosial karena tidak peduli
Tindakan antisosial karena tidak peduli adalah tindakan karena ketidakpedulian si pelaku mengenai keberadaan masyarakat disekitarnya. Seperti membuang sampah di sebmarang tempat atau mengebut ketika berkendara di jalan raya.


  • Penyebab Antisocial Personality Disorder 
1. Terdapat norma dan nilai sosial yang tidak sesuai atau sejalan mengenai keinginan masyarakat sehingga dapat terjadi kesenjangan budaya, baik pola pikir masyarakat. 
2. Adanya ideologi yang dipaksakan untuk masuk ke dalam lingkungan masyarakat. Hal tersebut dapat menimbulkan guncangan budaya bagi masyarakat yang belum siap untuk menerima ideologi baru tersebut. 

3. Masyarakat kurang siap untuk menerima perubahan dalam tatanan masyarkat. Hal tersebut dapat terjadi karena terdapat perubahan sosial yang menuntuk seluruh komponen agar berubah mengikuti tatanan yang baru. Dalam perubahan, terdapat komponen yang siap, namun ada juga yang sebaliknya yang justru bersikap antisosial karena sepakat dengan perubahan yang terjadi. Seperti perusakan fasilitas umum. 
4. Ketidakmampuan seseorang untuk memahami atau menerima mengenai bentuk-bentuk perbedaan sosial dalam masyarakat sehingga akan mengakibatkan kecemburuan sosial. Perbedaan-perbedaan dimaknai sebagai suatu permasalahan yang dapat mengancam stabiltas masyarakat yang sudah tertata. 
5. Pemimpin yang kurang sigap dan tanggal mengenai fenomena sosial dalam masyarakat serta tidak mampu mengartikan keinginan masyarakat secara keseluruhan. 


      Menurut Soerjono Soekanto terdapat tiga istilah yang berhubunga dengan sikap antisosial, yaitu :

1)    Antikoformitas

Antikonformitas adalah suatu pelanggaran terhadap nilai-nilai dan norma-norma sosial yang dilakukan dengan sengaja oleh individu atau sekelompok individu. Sebagai contoh : mencuri, membunuh, membuat keributan, dan mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat.

2)    Aksi Antisosial
Aksi antisosial adalah sebuah aksi yang menempatkan kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok tertentu atas kepentingan umum. Sebagai contoh: tidak mau mengikuti kegiatan gotong royong di masyarakat, memanipulasi data keuangan sebuah organisasi demi kepentingan diri sendiri, dan lain-lain.
3)    Antisosial Grudge

Antisosial Grudge disebut juga dendam antisosial, yaitu rasa dendam atau sakit hati terhadap masyarakat maupun terhadap aturan sosial tertentu sehingga menimbulkan perilaku menyimpang. Sebagai contoh : minum minuman keras dan penyalahgunaan nerkoba karena merasa kurang dihargai olehmasyarakat sekitar.



  • Cara Penanganan Antisocial Personality Disorder 


1. Perawatan

Karena orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial tidak memiliki gejala-gejala seperti tingkah laku abnormal pada umumnya (yakni kecemasan, depresi,delusi, halusinasi), maka mereka tidak didiagnosis sebagai orang-orang yang memiliki gangguan psikologi, karena hal tersebut mereka tidak perlu dirawat. Melainkan, karena tingkah laku mereka sering dilihat sebagai tingkah laku kriminal, maka mereka mungkin akan dihukum (dipenjarakan). Dengan alasan tersebut, sangat sedikit sekali masyarakat memberikan perhatian untuk merawat mereka. Tetapi karena masalah berat yang dilakukan oleh orang-orang ini terhadap masyarakat, maka usaha untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku mereka dianggap penting. Dengan demikian, disini akan dijelaskan beberapa pendekatan perawatan yang terbatas meskipun diakui orang-orang yang menderita gangguan ini sangat sulit dan tidak mungkin dirawat. 

2. Pendekatan Psikodinamik

Pada pendekatan ini, para terapis berusaha memberikan figur-figur orang tua yang berperrilaku tepat untuk pasien-pasien yang mengalami gangguan kepribadian antisosial. Para terapis tidak hanya akan memberikan dukungan, afeksi, dan pemahaman, tetapi mereka juga secara konsisten membimbing pasien-pasien dengan sikap yang tegas.  Karena pendekan ini pecaya bahwa orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian antisosial adalah orang-orang yang kurang diberikan kasih sayang orang tuanya, sehingga mereka tidak memiliki figur-figur yang patut dicontoh. Tujuan dari dilakukannya pendekatan ini ialah membantu pasien mengidentifikasikan diri dengan terapis, dan dengan berbuat demikian pasien dapat menginternalisasikan ajaran-ajaran yang telah diberikan. Pendekatan ini berfokus pada usaha untuk mengambangkan pematangan melalui identifikasi dan bukan pada usaha untuk memecahkan masalah-masalah melalui pemahaman seperti yang dilakukan terhadap pasien-pasien lain. Pada pendekatan ini, pasien dapat kambuh kembali setelah menjalani perawatan. Karena orang-orang yang mengalami gangguan ini tidak memberikan respon terhadap perawatan, maka banyak psikoterpis yang enggan merawat orang-orang ini.

3. Pendekatan Belajar
Teori belajar mengemukakan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial kurang mampu mengembangkan renpon-respon kecemasan yang terkondisi secara klasik, dan dengan demikian orang-orang ini tidak belajar menghindari perilaku-perilaku yang tidak tepat. Karena itu, intervensi- intervensi terapeutik yang bertolak dari pengondisian klasik tidak bermanfaat. Tetapi ada kemungkinan penggunaan pengondisian operan dimaksudkan untuk mengembangkan respons-respons yang tepat. Masalah yang muncul dalam pendekatan ini adalah orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial sudah mampu memperoleh reward-rewaard yang diinginkan melalui perilaku-perilaku mereka yang tidak tepat. Dengan demikian, tidak ada gunanya terapis menahan atau mengulur-ulur suatu reward atau intensif untuk tingkah laku yang tepat.  

4. Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis mengemukakan bahwa ganguan kepribadian antisosial terjadi karena korteks kurang terangsang   (cortical underarousal) sehingga orang-orang yang mengalami ganggua kepribadain antisosial tidak mengondisikan dengan baik dan sering melakukan perilaku-perilaku yang tidak tepat untuk menigkatkan rangsangan.bertolak dari penjelasan ini, kita mungkin mengharapkan bahwa pasien-pasien dapat dirawat dengan obat-obat stimulan kortikal yang akan meningkatkan kerentanan terhadap pengondisian dan mengurangi kebutuhan akan perangsangan.  Tetapi pengaruh obat-obatan stimulan jika digunakan untuk orang dewasa ternyata tidak bertahan lama dan tidak mungkin mereka menggunakan obat-obatan stimulan dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian dapat dikatakan orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian antisosial dapat dirawat atau dikontrol dengan menggunakan obat.

 

  • Kesimpulan

 


Meskipun Antisocial Personality Disorder dengan berbagai gejala yang sudah kami paparkan di atas cenderung lebih ke ranah klinis dalam ilmu psikologi, nyatanya dewasa ini kita sebagai generasi era digital hampir dilumpuhkan dan bisa saja semua orang mengalami Antisocial Personality Disorder. Tidak lain karena kita sudah diperbudak oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri. Kita yang sering kali mengabaikan lingkungan sekitar karena lebih memilih untuk menjadi generasi menunduk  dimanapun dan kapanpun.

  • Salah satu video tentang Antisosial Personality Disorder adalah:






Referensi:
Nevid, Jeferry S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta : Erlangga
Silitonga Ferry. 2010. Gangguan Kepribadian Antisosial.
Soekanto, Soerjono. 1983. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Surabaya :
Ghalia Indonesia.
Shadily, Hassan. 1998. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Images:
(diakses pada 20 April 2016 pukul: 18:55 WIB)
(diakses pada 20 April 2016 pukul: 18:55 WIB)